Misteri Bom Bali
‘’Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang bisa menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.’’ (QS 49:6)
Sabtu 12 Oktober 2002 sekitar pukul 23.30 WITA, bom berkekuatan besar meluluhlantakkan diskotik Sariclub serta puluhan bangunan dan kendaraan lainnya yang berada pada radius 10-20 meter. Suara ledakan amat keras terdengar jauh hingga 20 km dari tempat kejadian, Jl Legian, Pantai Kuta, Bali.
Kebetulan, malam itu, penulis masih berada di kantor Republika sampai sekitar pukul 24.00. Informasi amat singkat tentang musibah kemanusiaan itu baru saya ketahui beberapa menit sebelum pulang ke rumah. Sampai di rumah, sekitar pukul 01.00 WIB atau Ahad (13 Oktober) dinihari iseng-iseng saya mengakses situs Institute for Counter-Terrorism (ICT) milik Israel. Sungguh mengagumkan di sana ternyata sudah terpampang laporan ‘investigasi’ kasus Bom Bali dengan tajuk Al-Qaida's Asian Web.
Laporan itu ditulis Yael Shahar, peneliti ICT, tanggal 12 Oktober. Dia mengawali tulisanya dengan kata-kata kurang lebih ‘’sungguh ironis, bahkan tragis, setelah berbulan-bulan Pemerintah Indonesia menyangkal adanya aktivitas militan Alqaidah, kini mereka dikejutkan oleh aksi terror terburuk dalam sejarah Indonesia. Tak bisa dibantah serangan terror itu ditujukkan pada orang-orang Barat yang biasa berkunjung ke Bali sebagai turis. Juga tak bisa disangkal militan Islam yang terkait Alqaidah pasti ada di belakang serangan hebat yang terjadi tepat dua tahun setelah pemboman kapal induk USS Cole milik Amerika.’’
Tragedi 12 Oktober, kata peneliti Yahudi itu, bukanlah serangan terakhir bagi wisatawan Barat. Ini serangan paling banyak mematikan bagi pengunjung asing yang berkunjung ke Asia. ‘’Serangan teror serupa pernah menimpa para insinyur Francis, kalangan diplomat Barat, relawan Kristen yang bekerja di Pakistan, serta pasukan Amerika di Filipina dan Kuwait. Di Indonesia, serangan terhadap kalangan non-muslim terlah terjadi di berbagai kota pada tahun 2000 melalui serial pemboman gereja-gereja.’’
Selanjutnya, Yael Shahar menuding Abubakar Ba’asyir yang disebutnya sebagai amir Jemaah Islamiah dan Majelis Mujahidin Indonesia sebagai pihak yang pertama-tama harus dicurigai terlibat. Dia lantas membeber jalinan persahabatan dan kedekatan antara orang-orang seperti Hambali, Fathurrahman Al-Ghozi, dan Iqbal Uzzaman (disebut kepercayaan Ba’asyir) dengan para operator Alqaidah Usamah bin Ladin seperti Yaziz Sufaat dan Faiz Abubakar Bafana (Malaysia), Muhammad Mansyur Jabarah (Thailand), Ibrahim Maidin dan Muhammad Aslam bin Yar Ali Khan (Singapura), kelompok Abu Sayyaf dan Moro Islamic Liberation Front (MILF), serta Zacarias Moussaoui (mualaf Amerika).
Pada akhir laporan sembilan halaman –kemudian direvisi tanggalnya menjadi 15 Oktober 2002— teman Rohan Gunaratna (agen zionis penulis buku Inside Al Qaeda: Global Network of Terror) itu menarik kesimpulan bahwa karena berbagai factor Indonesia mudah menjadi sarang teroris. Ada lebih dari 17.000 pulau dengan batas wilayah yang tersebar dan bolong-bolong dari penjagaan.
Belajar dari kasus Bom Bali, kata Yael Shahar, kini tak ada pilihan lain bagi Pemerintah Indonesia kecuali menghabisi kelompok teroris Islam. Jika bersikap ragu dan tetap menolak fakta adanya sel-sel Alqaidah di Indonesia, bukan mustahil konflik akan berkepanjangan dan meluas sampai terjadi instabilitas di seluruh Asia Tenggara. Membiarkan semangat jihad global tetap berkobar di kalangan Islam fundamentalis, menurut dia, itu hanya akan membahayakan keutuhan teritorial Indonesia sendiri.
Tiga hari kemudian, Rohan Gunaratna menulis tuduhan yang sama dengan subtansi wacana serupa di The Guardian. Dan, sungguh mengherankan, apa yang didadar Yael Shahar pada jam-jam pertama pascaledakan 12 Oktober 2002 ditambah bumbu provokatif dari Rohan Gunaratna pada 15 Oktober 2002 itulah yang agaknya menjadi rujukan Presiden AS George W Bush, PM Australia John Howard dan PM Inggris Tony Blair untuk menunjuk Abubakar Ba’asyir dan Jemaah Islamiah sebagai pihak tertuduh yang melakukan dan mendalangi Malapetaka 12 Oktober 2002.
Yang juga memprihatinkan adalah sikap Presiden Megawati Soekarnoputeri yang terkesan diam dan mau tunduk begitu saja terhadap tekanan –bahkan bukan tidak mungkin pesanan-- dari tiga sekawan aktor utama yang berperan sebagai loyalis-propaganda anti-Islam itu. Tatkala tim investigasi gabungan baru digagas, Menhan Matori Abdul Djalil bahkan dengan enteng meyakini bahwa Alqaidah dan operator local Jemaah Islamiah ada di balik Bom Bali. ‘’Saya heran, mengapa orang-orang kok tidak percaya dengan segala informasi dari luar.’’
Pemberlakuan Perpu Antiterosime yang disusul dengan penangkapan amir Majelis Mujahidin Indonesia KH Abubakar Ba’asyir menjadi bukti betapa tekanan asing itu telah begitu hebat menekan Pemerintah Indonesia. Adanya campur tangan asing juga yang bisa menjelaskan mengapa Tim Investigasi Gabungan Polri-AFP terkesan tidak serius, setengah hati, malah mandek, menyelidiki identitas dan asal usul bom yang menyebabkan hampir 200 orang tewas, hampir 350 lainnya terluka, serta menghancurkan puluhan gedung dan kendaraan sekitar Sariclub.
Meminjam hasil analisis dan investigasi pihak-pihak independen, kita dapat merasakan Tragedi 12 Oktober 2002 --yang menurut cendikiawan Nurcholish Madjid setara dengan Tragedi 11 September 2001—sarat dengan muatan kepentingan propaganda dan disinformasi menyudutkan Islam dan umat Muslim.
Kita sudah menyaksikan ada begitu banyak kejanggalan, bahkan kepalsuan, di balik pembuatan daftar tersangka pelaku Tragedi 11 September serta penggelaran kampanye ‘Perang Antiterorisme’ yang pernah disebut George Bush dan Jaksa Agung John Schroft sebagai ‘Perang Salib Baru’ (The New Jewish and Chriatianity Crusade). Kita juga mendapat informasi ada begitu banyak mualaf dikorbankan sebagai pelaku aksi anarkis dan teror. Apa yang bisa dijelaskan kepada publik jika 10 dari 19 tersangka pelaku aksi Tragedi WTC itu ternyata masih hidup. Siapa yang bisa menghukum, ketika dalang sesungguhnya adalah orang-orang hasil binaan sebuah aliansi dan konspirasi yang diarsiteki CIA dan Mossad. Bukan tak mungkin mereka pula yang menjadi mastermind di balik Tragedi Bali.
Alangkah bijaksana jika para pengambil kebijakan –utamanya yang masih mau mengaku beragama Islam—mau sedikit belajar dari kasus Tragedi Luxor di Mesir. Tragedi tahun 1997 yang menewaskan 78 orang (69 daintaranya adalah turis asing) serta melukai 85 warga lainnya itu sesungguhnya adalah buah dari rekayasa agen-agen Mossad. Mereka menyusup dan memanfaatkan orang yang diduga kenal atau pernah berkomunikasi dengan aktivis Ikhwanul Muslimin dan Gamaat Islamiyat Mesir. Apa yang kemudian terjadi? Seakan memenuhi 'pesanan' Washington, Pemerintah Mesir langsung menangkapi ratusan aktivis IM dan JI dan menjebloskannya ke penjara tanpa proses pengadilan.
Apakah cara dan langkah represif seperti itu yang hendak terjadi di sebuah negara yang hingga kini tercatat masih berpenduduk mayoritas muslim ini? Dimanakah keadilan dan kejujuran ketika komplotan separatis pendeta Alex Manuputty dan kawan-kawan, yang jelas-jelas ingin mendirikan Republik Maluku Selatan, dibiarkan bebas dari tahanan, sementara Ustaz Abubakar Ba’asyir, yang renta, sakit-sakitan dan belum tentu bersalah, sekadar shalat Jumat saja dilarang. Lalu, apa maksudnya kebebasan menjalankan ajaran agama masing-masing itu dijamin oleh UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia? Dimanakah perasan dan empati dari para pemimpin yang masih ber-KTP Islam itu?
Wahai warga dunia yang masih punya nurani dan logika akal sehat! Kita semua sama-sama menyadari terror dalam bentuk apa pun –termasuk state terrorism yang dikerjakan tanpa malu-malu oleh Amerika dan Israel—adalah tidak dibenarkan oleh rasa kemanusian dan agama apa pun. Kami, warga Indonesia dan umat muslim pun turut berduka dan mengecam aksi terorisme di mana pun. Orang-orang seperti Amrozi, Mukhlas dkk boleh jadi –seperti pengakuan mereka-- mungkin ikut terlibat dalam aksi Bom Bali, tapi benarkah dia yang meledakkan Sariclub? Katakanlah ada orang Islam ikut terlibat sebagai dump agent, menurut analisis Wakil Ketua Tim Investigasi MUI Suripto SH, tapi apa adil jika muslim lainnya yang ikhlas memperjuangkan syariat Islam harus juga kena getahnya?
Kalau mau jujur dan terbuka sebenarnya ada cukup banyak indikasi agen-agen intelijen asing bermain di Bali. Beragam informasi seperti adanya agen BIN yang disusupkan ke Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), kesaksian tentara Australia di tempat kejadian, hasil investigasi tim independen, bukti-bukti disinformasi yang dihembuskan AS, Singaoura dan International Crisis Group, simpang siur pengakuan para saksi soal Bangkok Meeting, serta pengakuan Kepala Australian Federal Police (AFP) Mick Keelty tentang adanya deal-deal khusus dan seterunya, rupanya tidak cukup menarik untuk dibedah sebagai wacana alternatif dibanding temuan-temuan dan klaim-klaim formal dari Tim Investigasi Gabungan Polri-AFP.
Pembaca yang budiman, dalam suasana gundah dan prihatin melihat berbagai upaya propaganda dan disinformasi yang terus dihembus-hembuskan Amerika dan antek-anteknya itulah buku sederhana ini disusun. Apa pun data dan informasi yang terdapat di dalamnya, yang tersirat maupun tersurat, Insya Allah ada dasarnya. Dan seperti perintah Allah dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 6, marilah sama-sama kita bertabayun terhadap segala macam kabar dan berita yang datangnya dari manusia. Apalagi jika kita tahu mereka termasuk katagori orang yang suka atau malah terbiasan berbuat fasik (berbohong, menipu, ingkar, dzolim, dan aneka kejahatan lainnya)..
Akhirnya, terlepas dari kekurangan yang masih melekat di sana-sini, penulis berharap mudah-mudahan ada manfaatnya. Hanya kepada Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, penulis berharap semoga risalah kecil ini punya nilai dakwah amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya. Amin. Wallahu ’alam bish-showab.
Jakarta, 5 Januari 2003
Ir Dedi Junaedi
Sabtu 12 Oktober 2002 sekitar pukul 23.30 WITA, bom berkekuatan besar meluluhlantakkan diskotik Sariclub serta puluhan bangunan dan kendaraan lainnya yang berada pada radius 10-20 meter. Suara ledakan amat keras terdengar jauh hingga 20 km dari tempat kejadian, Jl Legian, Pantai Kuta, Bali.
Kebetulan, malam itu, penulis masih berada di kantor Republika sampai sekitar pukul 24.00. Informasi amat singkat tentang musibah kemanusiaan itu baru saya ketahui beberapa menit sebelum pulang ke rumah. Sampai di rumah, sekitar pukul 01.00 WIB atau Ahad (13 Oktober) dinihari iseng-iseng saya mengakses situs Institute for Counter-Terrorism (ICT) milik Israel. Sungguh mengagumkan di sana ternyata sudah terpampang laporan ‘investigasi’ kasus Bom Bali dengan tajuk Al-Qaida's Asian Web.
Laporan itu ditulis Yael Shahar, peneliti ICT, tanggal 12 Oktober. Dia mengawali tulisanya dengan kata-kata kurang lebih ‘’sungguh ironis, bahkan tragis, setelah berbulan-bulan Pemerintah Indonesia menyangkal adanya aktivitas militan Alqaidah, kini mereka dikejutkan oleh aksi terror terburuk dalam sejarah Indonesia. Tak bisa dibantah serangan terror itu ditujukkan pada orang-orang Barat yang biasa berkunjung ke Bali sebagai turis. Juga tak bisa disangkal militan Islam yang terkait Alqaidah pasti ada di belakang serangan hebat yang terjadi tepat dua tahun setelah pemboman kapal induk USS Cole milik Amerika.’’
Tragedi 12 Oktober, kata peneliti Yahudi itu, bukanlah serangan terakhir bagi wisatawan Barat. Ini serangan paling banyak mematikan bagi pengunjung asing yang berkunjung ke Asia. ‘’Serangan teror serupa pernah menimpa para insinyur Francis, kalangan diplomat Barat, relawan Kristen yang bekerja di Pakistan, serta pasukan Amerika di Filipina dan Kuwait. Di Indonesia, serangan terhadap kalangan non-muslim terlah terjadi di berbagai kota pada tahun 2000 melalui serial pemboman gereja-gereja.’’
Selanjutnya, Yael Shahar menuding Abubakar Ba’asyir yang disebutnya sebagai amir Jemaah Islamiah dan Majelis Mujahidin Indonesia sebagai pihak yang pertama-tama harus dicurigai terlibat. Dia lantas membeber jalinan persahabatan dan kedekatan antara orang-orang seperti Hambali, Fathurrahman Al-Ghozi, dan Iqbal Uzzaman (disebut kepercayaan Ba’asyir) dengan para operator Alqaidah Usamah bin Ladin seperti Yaziz Sufaat dan Faiz Abubakar Bafana (Malaysia), Muhammad Mansyur Jabarah (Thailand), Ibrahim Maidin dan Muhammad Aslam bin Yar Ali Khan (Singapura), kelompok Abu Sayyaf dan Moro Islamic Liberation Front (MILF), serta Zacarias Moussaoui (mualaf Amerika).
Pada akhir laporan sembilan halaman –kemudian direvisi tanggalnya menjadi 15 Oktober 2002— teman Rohan Gunaratna (agen zionis penulis buku Inside Al Qaeda: Global Network of Terror) itu menarik kesimpulan bahwa karena berbagai factor Indonesia mudah menjadi sarang teroris. Ada lebih dari 17.000 pulau dengan batas wilayah yang tersebar dan bolong-bolong dari penjagaan.
Belajar dari kasus Bom Bali, kata Yael Shahar, kini tak ada pilihan lain bagi Pemerintah Indonesia kecuali menghabisi kelompok teroris Islam. Jika bersikap ragu dan tetap menolak fakta adanya sel-sel Alqaidah di Indonesia, bukan mustahil konflik akan berkepanjangan dan meluas sampai terjadi instabilitas di seluruh Asia Tenggara. Membiarkan semangat jihad global tetap berkobar di kalangan Islam fundamentalis, menurut dia, itu hanya akan membahayakan keutuhan teritorial Indonesia sendiri.
Tiga hari kemudian, Rohan Gunaratna menulis tuduhan yang sama dengan subtansi wacana serupa di The Guardian. Dan, sungguh mengherankan, apa yang didadar Yael Shahar pada jam-jam pertama pascaledakan 12 Oktober 2002 ditambah bumbu provokatif dari Rohan Gunaratna pada 15 Oktober 2002 itulah yang agaknya menjadi rujukan Presiden AS George W Bush, PM Australia John Howard dan PM Inggris Tony Blair untuk menunjuk Abubakar Ba’asyir dan Jemaah Islamiah sebagai pihak tertuduh yang melakukan dan mendalangi Malapetaka 12 Oktober 2002.
Yang juga memprihatinkan adalah sikap Presiden Megawati Soekarnoputeri yang terkesan diam dan mau tunduk begitu saja terhadap tekanan –bahkan bukan tidak mungkin pesanan-- dari tiga sekawan aktor utama yang berperan sebagai loyalis-propaganda anti-Islam itu. Tatkala tim investigasi gabungan baru digagas, Menhan Matori Abdul Djalil bahkan dengan enteng meyakini bahwa Alqaidah dan operator local Jemaah Islamiah ada di balik Bom Bali. ‘’Saya heran, mengapa orang-orang kok tidak percaya dengan segala informasi dari luar.’’
Pemberlakuan Perpu Antiterosime yang disusul dengan penangkapan amir Majelis Mujahidin Indonesia KH Abubakar Ba’asyir menjadi bukti betapa tekanan asing itu telah begitu hebat menekan Pemerintah Indonesia. Adanya campur tangan asing juga yang bisa menjelaskan mengapa Tim Investigasi Gabungan Polri-AFP terkesan tidak serius, setengah hati, malah mandek, menyelidiki identitas dan asal usul bom yang menyebabkan hampir 200 orang tewas, hampir 350 lainnya terluka, serta menghancurkan puluhan gedung dan kendaraan sekitar Sariclub.
Meminjam hasil analisis dan investigasi pihak-pihak independen, kita dapat merasakan Tragedi 12 Oktober 2002 --yang menurut cendikiawan Nurcholish Madjid setara dengan Tragedi 11 September 2001—sarat dengan muatan kepentingan propaganda dan disinformasi menyudutkan Islam dan umat Muslim.
Kita sudah menyaksikan ada begitu banyak kejanggalan, bahkan kepalsuan, di balik pembuatan daftar tersangka pelaku Tragedi 11 September serta penggelaran kampanye ‘Perang Antiterorisme’ yang pernah disebut George Bush dan Jaksa Agung John Schroft sebagai ‘Perang Salib Baru’ (The New Jewish and Chriatianity Crusade). Kita juga mendapat informasi ada begitu banyak mualaf dikorbankan sebagai pelaku aksi anarkis dan teror. Apa yang bisa dijelaskan kepada publik jika 10 dari 19 tersangka pelaku aksi Tragedi WTC itu ternyata masih hidup. Siapa yang bisa menghukum, ketika dalang sesungguhnya adalah orang-orang hasil binaan sebuah aliansi dan konspirasi yang diarsiteki CIA dan Mossad. Bukan tak mungkin mereka pula yang menjadi mastermind di balik Tragedi Bali.
Alangkah bijaksana jika para pengambil kebijakan –utamanya yang masih mau mengaku beragama Islam—mau sedikit belajar dari kasus Tragedi Luxor di Mesir. Tragedi tahun 1997 yang menewaskan 78 orang (69 daintaranya adalah turis asing) serta melukai 85 warga lainnya itu sesungguhnya adalah buah dari rekayasa agen-agen Mossad. Mereka menyusup dan memanfaatkan orang yang diduga kenal atau pernah berkomunikasi dengan aktivis Ikhwanul Muslimin dan Gamaat Islamiyat Mesir. Apa yang kemudian terjadi? Seakan memenuhi 'pesanan' Washington, Pemerintah Mesir langsung menangkapi ratusan aktivis IM dan JI dan menjebloskannya ke penjara tanpa proses pengadilan.
Apakah cara dan langkah represif seperti itu yang hendak terjadi di sebuah negara yang hingga kini tercatat masih berpenduduk mayoritas muslim ini? Dimanakah keadilan dan kejujuran ketika komplotan separatis pendeta Alex Manuputty dan kawan-kawan, yang jelas-jelas ingin mendirikan Republik Maluku Selatan, dibiarkan bebas dari tahanan, sementara Ustaz Abubakar Ba’asyir, yang renta, sakit-sakitan dan belum tentu bersalah, sekadar shalat Jumat saja dilarang. Lalu, apa maksudnya kebebasan menjalankan ajaran agama masing-masing itu dijamin oleh UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia? Dimanakah perasan dan empati dari para pemimpin yang masih ber-KTP Islam itu?
Wahai warga dunia yang masih punya nurani dan logika akal sehat! Kita semua sama-sama menyadari terror dalam bentuk apa pun –termasuk state terrorism yang dikerjakan tanpa malu-malu oleh Amerika dan Israel—adalah tidak dibenarkan oleh rasa kemanusian dan agama apa pun. Kami, warga Indonesia dan umat muslim pun turut berduka dan mengecam aksi terorisme di mana pun. Orang-orang seperti Amrozi, Mukhlas dkk boleh jadi –seperti pengakuan mereka-- mungkin ikut terlibat dalam aksi Bom Bali, tapi benarkah dia yang meledakkan Sariclub? Katakanlah ada orang Islam ikut terlibat sebagai dump agent, menurut analisis Wakil Ketua Tim Investigasi MUI Suripto SH, tapi apa adil jika muslim lainnya yang ikhlas memperjuangkan syariat Islam harus juga kena getahnya?
Kalau mau jujur dan terbuka sebenarnya ada cukup banyak indikasi agen-agen intelijen asing bermain di Bali. Beragam informasi seperti adanya agen BIN yang disusupkan ke Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), kesaksian tentara Australia di tempat kejadian, hasil investigasi tim independen, bukti-bukti disinformasi yang dihembuskan AS, Singaoura dan International Crisis Group, simpang siur pengakuan para saksi soal Bangkok Meeting, serta pengakuan Kepala Australian Federal Police (AFP) Mick Keelty tentang adanya deal-deal khusus dan seterunya, rupanya tidak cukup menarik untuk dibedah sebagai wacana alternatif dibanding temuan-temuan dan klaim-klaim formal dari Tim Investigasi Gabungan Polri-AFP.
Pembaca yang budiman, dalam suasana gundah dan prihatin melihat berbagai upaya propaganda dan disinformasi yang terus dihembus-hembuskan Amerika dan antek-anteknya itulah buku sederhana ini disusun. Apa pun data dan informasi yang terdapat di dalamnya, yang tersirat maupun tersurat, Insya Allah ada dasarnya. Dan seperti perintah Allah dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 6, marilah sama-sama kita bertabayun terhadap segala macam kabar dan berita yang datangnya dari manusia. Apalagi jika kita tahu mereka termasuk katagori orang yang suka atau malah terbiasan berbuat fasik (berbohong, menipu, ingkar, dzolim, dan aneka kejahatan lainnya)..
Akhirnya, terlepas dari kekurangan yang masih melekat di sana-sini, penulis berharap mudah-mudahan ada manfaatnya. Hanya kepada Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, penulis berharap semoga risalah kecil ini punya nilai dakwah amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya. Amin. Wallahu ’alam bish-showab.
Jakarta, 5 Januari 2003
Ir Dedi Junaedi


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda