Usamah, Alqaidah dan Jamaah Islamiyyah
Alqaidah awalnya hanya istilah hukum dari garis perjuangan sebuah organisasi para mujahid Afghanistan. Sebutan itu kini telah menjadi stempel generik yang diberikan AS kepada kalangan Islam fundamentalis atau organisasi-organisasi yang bercita-cita mendirikan daulah atau khilafah Islamiyah.
Sebenarnya, yang disebut Alqaidah awalnya hanya Makhtab Al-Khidamah (MAK), sebuah LSM yang dirikan oleh para veteran pejuang Afghanistan. Tokoh utamanya adalah Dr Abdullah Azzam (tokoh Ikhwanul Muslimin asal Palestina yang syahid di Afghanistan tahun 1989) dan Usamah bin Ladin. Rohan Gunaratna sendiri dalam bukunya, Inside Al Qaeda: Global Network of Terror, menyebut Alqaidah sampai Tragedi 11 September hanyalah organisasi virtual dan fiktif.
Usamah sendiri adalah konglomerat Arab Saudi yang menjadi salah satu murid terdekat Abdullah Azzam dan telah berikrar menginfaqkan hampir seluruh harta dan jiwanya untuk perjuangan Islam. Cita-cita akhirnya adalah menegakkan syariah Islam dan menghidupkan kembali kekhalifahan Islam.
Sejak 1979, Usamah meninggalkan kehidupannya yang glamour dan bergabung dengan para mujahidin di Afghanistan. Dalam pertempuran melawan kekuatan komunis Uni Soviet (kini Rusia), konon Usamah pernah menjalin kontak dengan intelijen AS (CIA). Kelompok Usama termasuk satu dari tujuh faksi mujahidin yang mendapat bantuan senjata rudal Stinger dari AS.
Setelah Rusia terusir dari bumi Afganistan, Usamah kembali ke Saudi. Semangat jihadnya masih menyala. Di Saudi dia tumbuh dan menjadi simbol perjuangan kelompok kritis terhadap Kerajaan Saudi. Dia mengkritik habis sikap Pemerintah Saudi yang mendukung AS dan membiarkan tentara AS berkeliaran di tanah suci sejak Perang Teluk sampai sekarang. Terusir dari Saudi, Usamah hijrah ke Sudan tahun 1995. AS yang semula memperlakukannya sebagai kawan tiba-tiba menvonisnya sebagai musuh AS nomor satu. Di Sudan, Usamah pernah dibombardir AS. Atas saran teman-temanya dia kemudian hijrah lagi ke Afghanistan dan membina hubungan baik dengan Taliban sampai kemudian terbentuk Pemerintah Taliban.
AS kemudian selalu menyebut-nyebut Usamah bin Ladin sebagai pendiri Alqaidah dan Alqaidah adalah organisasi dan jaringan teroris internasional. Berbagai aksi peledakan dan pemboman di sejumlah tempat selalu dikaitkan dengan aksi teror Alqaidah. Usamah dkk pun diburu untuk dihabisi karena dicap terlibat serangkaian aksi teror. Mulai dari usaha pemboman kapal induk AS di Timteng, peledakan gedung WTC tahun 1993, pemboman Oklahoma City 1995, tragedi Luxor 1997, pemboman sejumlah Kedubes AS 1998, serangan WTC dan Pentagon 2001, sampai pemboman 12 Oktober di Bali.
Ancaman dan intimidasi AS dan sekutunya rupanya tak pernah membuat Usamah surut. Tahun 1998, Usamah membuat deklarasi perang melawan AS dan Israel. Bersama Gamaat Islamiyat dan Jihad Islam, Alqaidah membentuk fornt jihad global melalui organisasi Al-Jabhah al-Islamiyyah al-'Alamiyyah li-Qital al-Yahud wal-Salibiyyun (Front Jihad Islam Melawan Yahudi dan Salibis).
Setelah Tragedi 11 September dan Afghanistan diserang, AS melihat masyarakat Islam di Indonesia kerap berdemo anti-Amerika. Ormas-ormas malah kian banyak dan kerap menyuarakan penegakkan syariat Islam. AS melalui propagandisnya --Paul Wolfowitz, John Aschroft, Rohan Gunaratna dan Yael Shahr-- menyebut Indonesia sarang teroris. Melalui Abubakar Ba'asyir yang dicap amir Jamaah Islamiyyah di Asia Tenggara, Alqaidah telah membangun sel-sel pelatihan teroris di Poso, Ambon dan Kalimantan (Pesantren Hidayatullah).
Hanya beberapa hari sebelum Tragedi 12 Oktober, dua dedengkot Christian Coalitions pendeta Pat Robertson dan Jerry Falwell melakukan manuver insinuatif dengan menuduh Rasulullah Muhammad SAW adalah pembunuh dan teroris. Mereka berkata: ''Jika rasulnya saja teroris, bagaimana dengan umatnya?''
Benarkah Usamah dan Alqaidah adalah teroris dan terlibat aksi 11 September 2001 dan 12 Oktober 2002? Sampai kini pelaku sebenarnya aksi 11 septermber belum jelas. Alih-alih bisa membuktikannya, Pemerintah AS malah kini menghadapi ujian berat dari Tim Investigasi Kongres. Direktur FBI pernah mengaku tak menemukan selembar pun bukti yang memberi indikasi Usamah dan Alqaidah terlibat. Sementara itu, dari 19 tersangka pelaku serangan bunuh diri dalam Tragedi WTC, 10 diantaranya ternyata masih hidup.
Merasa 'vonisnya' lemah, Presiden George W Bush belakangan punya tuduhan baru, bahwa pelaku Tragedi WTC itu adalah teroris Irak. Mereka bergerak atas suruhan Presiden Saddam Hussen. Maka Irak harus diserang dan Saddam perlu digulingkan. Masalahnya, AS kini tak lagi mudah mendapat dukungan. Kecuali Inggris, rencana serangan ke Irak mendapat tantangan dari Rusia, Perancis, Jerman dan sejumlah negara Timur Tengah, temasuk Arab Saudi. Warga AS dan Australia sendiri kian banyak yang menolak rencana invasi itu. Indonesia sendiri tak pernah memberi sinyal yang jelas. Presiden dan Wapres tak pernah kompak merespon keinginan AS. Maka, terjadilah pemboman di Bali yang menewaskan sekian banyak warga asing, terutama Australia.
Dengan dukungan analisis Yael Shahr dan Rohan Gunaratna (keduanya agen zionis Israel), Presiden Bush, PM Tony Blair dan PM John Howard pun kontan bernyanyi koor: Alqaidah telibat Bom Bali, Jamaah Islamiyah itu oraganisasi teroris dan Abu Bakar Ba'asyir harus ditangkap. Presiden Megawati, Menko Polkam Soesilo Bambang Yudhoyono, Menhan Matori Abdul Jalil dan Kapolri Da'i Bachtiar percaya pada propaganda asing dan akhirnya tunduk pun pada tekanan dan kemauan AS-Inggris-Asutralia. Setelah itu, kita menyaksikan, Perpu Antiterorisme diberlakukan, Ba'asyir yang tua dan sakit ditangkap, TNI dituduh menjual TNT kepada teroris, Jamaah Islamiyah resmi masuk daftar teroris internasional, dan warga muslim Indonesia di Australia dikejar-kejar intelijen Australia (ASIO).
Padahal, seperti juga Alqaidah, Jamaah Islamiyah awalnya hanyalah organisasi fiktif. Paling banter adalah sebutan yang sengaja dibikin untuk membuat stigma bagi gerakan Islam yang bercita-cita menegakkan syariat Islam. Ada kesan kuat Amerika beserta sekutu-sekutunya ingin mengidentikan Jamaah Islamiyah dengan Majelis Mujahidin Indonesia dan Kumpulan Mujahidin Malaysia.

