Kamis, 12 Juli 2007

Usamah, Alqaidah dan Jamaah Islamiyyah

Alqaidah awalnya hanya istilah hukum dari garis perjuangan sebuah organisasi para mujahid Afghanistan. Sebutan itu kini telah menjadi stempel generik yang diberikan AS kepada kalangan Islam fundamentalis atau organisasi-organisasi yang bercita-cita mendirikan daulah atau khilafah Islamiyah.
Sebenarnya, yang disebut Alqaidah awalnya hanya Makhtab Al-Khidamah (MAK), sebuah LSM yang dirikan oleh para veteran pejuang Afghanistan. Tokoh utamanya adalah Dr Abdullah Azzam (tokoh Ikhwanul Muslimin asal Palestina yang syahid di Afghanistan tahun 1989) dan Usamah bin Ladin. Rohan Gunaratna sendiri dalam bukunya, Inside Al Qaeda: Global Network of Terror, menyebut Alqaidah sampai Tragedi 11 September hanyalah organisasi virtual dan fiktif.
Usamah sendiri adalah konglomerat Arab Saudi yang menjadi salah satu murid terdekat Abdullah Azzam dan telah berikrar menginfaqkan hampir seluruh harta dan jiwanya untuk perjuangan Islam. Cita-cita akhirnya adalah menegakkan syariah Islam dan menghidupkan kembali kekhalifahan Islam.
Sejak 1979, Usamah meninggalkan kehidupannya yang glamour dan bergabung dengan para mujahidin di Afghanistan. Dalam pertempuran melawan kekuatan komunis Uni Soviet (kini Rusia), konon Usamah pernah menjalin kontak dengan intelijen AS (CIA). Kelompok Usama termasuk satu dari tujuh faksi mujahidin yang mendapat bantuan senjata rudal Stinger dari AS.
Setelah Rusia terusir dari bumi Afganistan, Usamah kembali ke Saudi. Semangat jihadnya masih menyala. Di Saudi dia tumbuh dan menjadi simbol perjuangan kelompok kritis terhadap Kerajaan Saudi. Dia mengkritik habis sikap Pemerintah Saudi yang mendukung AS dan membiarkan tentara AS berkeliaran di tanah suci sejak Perang Teluk sampai sekarang. Terusir dari Saudi, Usamah hijrah ke Sudan tahun 1995. AS yang semula memperlakukannya sebagai kawan tiba-tiba menvonisnya sebagai musuh AS nomor satu. Di Sudan, Usamah pernah dibombardir AS. Atas saran teman-temanya dia kemudian hijrah lagi ke Afghanistan dan membina hubungan baik dengan Taliban sampai kemudian terbentuk Pemerintah Taliban.
AS kemudian selalu menyebut-nyebut Usamah bin Ladin sebagai pendiri Alqaidah dan Alqaidah adalah organisasi dan jaringan teroris internasional. Berbagai aksi peledakan dan pemboman di sejumlah tempat selalu dikaitkan dengan aksi teror Alqaidah. Usamah dkk pun diburu untuk dihabisi karena dicap terlibat serangkaian aksi teror. Mulai dari usaha pemboman kapal induk AS di Timteng, peledakan gedung WTC tahun 1993, pemboman Oklahoma City 1995, tragedi Luxor 1997, pemboman sejumlah Kedubes AS 1998, serangan WTC dan Pentagon 2001, sampai pemboman 12 Oktober di Bali.
Ancaman dan intimidasi AS dan sekutunya rupanya tak pernah membuat Usamah surut. Tahun 1998, Usamah membuat deklarasi perang melawan AS dan Israel. Bersama Gamaat Islamiyat dan Jihad Islam, Alqaidah membentuk fornt jihad global melalui organisasi Al-Jabhah al-Islamiyyah al-'Alamiyyah li-Qital al-Yahud wal-Salibiyyun (Front Jihad Islam Melawan Yahudi dan Salibis).
Setelah Tragedi 11 September dan Afghanistan diserang, AS melihat masyarakat Islam di Indonesia kerap berdemo anti-Amerika. Ormas-ormas malah kian banyak dan kerap menyuarakan penegakkan syariat Islam. AS melalui propagandisnya --Paul Wolfowitz, John Aschroft, Rohan Gunaratna dan Yael Shahr-- menyebut Indonesia sarang teroris. Melalui Abubakar Ba'asyir yang dicap amir Jamaah Islamiyyah di Asia Tenggara, Alqaidah telah membangun sel-sel pelatihan teroris di Poso, Ambon dan Kalimantan (Pesantren Hidayatullah).
Hanya beberapa hari sebelum Tragedi 12 Oktober, dua dedengkot Christian Coalitions pendeta Pat Robertson dan Jerry Falwell melakukan manuver insinuatif dengan menuduh Rasulullah Muhammad SAW adalah pembunuh dan teroris. Mereka berkata: ''Jika rasulnya saja teroris, bagaimana dengan umatnya?''
Benarkah Usamah dan Alqaidah adalah teroris dan terlibat aksi 11 September 2001 dan 12 Oktober 2002? Sampai kini pelaku sebenarnya aksi 11 septermber belum jelas. Alih-alih bisa membuktikannya, Pemerintah AS malah kini menghadapi ujian berat dari Tim Investigasi Kongres. Direktur FBI pernah mengaku tak menemukan selembar pun bukti yang memberi indikasi Usamah dan Alqaidah terlibat. Sementara itu, dari 19 tersangka pelaku serangan bunuh diri dalam Tragedi WTC, 10 diantaranya ternyata masih hidup.
Merasa 'vonisnya' lemah, Presiden George W Bush belakangan punya tuduhan baru, bahwa pelaku Tragedi WTC itu adalah teroris Irak. Mereka bergerak atas suruhan Presiden Saddam Hussen. Maka Irak harus diserang dan Saddam perlu digulingkan. Masalahnya, AS kini tak lagi mudah mendapat dukungan. Kecuali Inggris, rencana serangan ke Irak mendapat tantangan dari Rusia, Perancis, Jerman dan sejumlah negara Timur Tengah, temasuk Arab Saudi. Warga AS dan Australia sendiri kian banyak yang menolak rencana invasi itu. Indonesia sendiri tak pernah memberi sinyal yang jelas. Presiden dan Wapres tak pernah kompak merespon keinginan AS. Maka, terjadilah pemboman di Bali yang menewaskan sekian banyak warga asing, terutama Australia.
Dengan dukungan analisis Yael Shahr dan Rohan Gunaratna (keduanya agen zionis Israel), Presiden Bush, PM Tony Blair dan PM John Howard pun kontan bernyanyi koor: Alqaidah telibat Bom Bali, Jamaah Islamiyah itu oraganisasi teroris dan Abu Bakar Ba'asyir harus ditangkap. Presiden Megawati, Menko Polkam Soesilo Bambang Yudhoyono, Menhan Matori Abdul Jalil dan Kapolri Da'i Bachtiar percaya pada propaganda asing dan akhirnya tunduk pun pada tekanan dan kemauan AS-Inggris-Asutralia. Setelah itu, kita menyaksikan, Perpu Antiterorisme diberlakukan, Ba'asyir yang tua dan sakit ditangkap, TNI dituduh menjual TNT kepada teroris, Jamaah Islamiyah resmi masuk daftar teroris internasional, dan warga muslim Indonesia di Australia dikejar-kejar intelijen Australia (ASIO).
Padahal, seperti juga Alqaidah, Jamaah Islamiyah awalnya hanyalah organisasi fiktif. Paling banter adalah sebutan yang sengaja dibikin untuk membuat stigma bagi gerakan Islam yang bercita-cita menegakkan syariat Islam. Ada kesan kuat Amerika beserta sekutu-sekutunya ingin mengidentikan Jamaah Islamiyah dengan Majelis Mujahidin Indonesia dan Kumpulan Mujahidin Malaysia.


Misteri Bom Bali

‘’Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang bisa menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.’’ (QS 49:6)

Sabtu 12 Oktober 2002 sekitar pukul 23.30 WITA, bom berkekuatan besar meluluhlantakkan diskotik Sariclub serta puluhan bangunan dan kendaraan lainnya yang berada pada radius 10-20 meter. Suara ledakan amat keras terdengar jauh hingga 20 km dari tempat kejadian, Jl Legian, Pantai Kuta, Bali.
Kebetulan, malam itu, penulis masih berada di kantor Republika sampai sekitar pukul 24.00. Informasi amat singkat tentang musibah kemanusiaan itu baru saya ketahui beberapa menit sebelum pulang ke rumah. Sampai di rumah, sekitar pukul 01.00 WIB atau Ahad (13 Oktober) dinihari iseng-iseng saya mengakses situs Institute for Counter-Terrorism (ICT) milik Israel. Sungguh mengagumkan di sana ternyata sudah terpampang laporan ‘investigasi’ kasus Bom Bali dengan tajuk Al-Qaida's Asian Web.
Laporan itu ditulis Yael Shahar, peneliti ICT, tanggal 12 Oktober. Dia mengawali tulisanya dengan kata-kata kurang lebih ‘’sungguh ironis, bahkan tragis, setelah berbulan-bulan Pemerintah Indonesia menyangkal adanya aktivitas militan Alqaidah, kini mereka dikejutkan oleh aksi terror terburuk dalam sejarah Indonesia. Tak bisa dibantah serangan terror itu ditujukkan pada orang-orang Barat yang biasa berkunjung ke Bali sebagai turis. Juga tak bisa disangkal militan Islam yang terkait Alqaidah pasti ada di belakang serangan hebat yang terjadi tepat dua tahun setelah pemboman kapal induk USS Cole milik Amerika.’’
Tragedi 12 Oktober, kata peneliti Yahudi itu, bukanlah serangan terakhir bagi wisatawan Barat. Ini serangan paling banyak mematikan bagi pengunjung asing yang berkunjung ke Asia. ‘’Serangan teror serupa pernah menimpa para insinyur Francis, kalangan diplomat Barat, relawan Kristen yang bekerja di Pakistan, serta pasukan Amerika di Filipina dan Kuwait. Di Indonesia, serangan terhadap kalangan non-muslim terlah terjadi di berbagai kota pada tahun 2000 melalui serial pemboman gereja-gereja.’’
Selanjutnya, Yael Shahar menuding Abubakar Ba’asyir yang disebutnya sebagai amir Jemaah Islamiah dan Majelis Mujahidin Indonesia sebagai pihak yang pertama-tama harus dicurigai terlibat. Dia lantas membeber jalinan persahabatan dan kedekatan antara orang-orang seperti Hambali, Fathurrahman Al-Ghozi, dan Iqbal Uzzaman (disebut kepercayaan Ba’asyir) dengan para operator Alqaidah Usamah bin Ladin seperti Yaziz Sufaat dan Faiz Abubakar Bafana (Malaysia), Muhammad Mansyur Jabarah (Thailand), Ibrahim Maidin dan Muhammad Aslam bin Yar Ali Khan (Singapura), kelompok Abu Sayyaf dan Moro Islamic Liberation Front (MILF), serta Zacarias Moussaoui (mualaf Amerika).
Pada akhir laporan sembilan halaman –kemudian direvisi tanggalnya menjadi 15 Oktober 2002— teman Rohan Gunaratna (agen zionis penulis buku Inside Al Qaeda: Global Network of Terror) itu menarik kesimpulan bahwa karena berbagai factor Indonesia mudah menjadi sarang teroris. Ada lebih dari 17.000 pulau dengan batas wilayah yang tersebar dan bolong-bolong dari penjagaan.
Belajar dari kasus Bom Bali, kata Yael Shahar, kini tak ada pilihan lain bagi Pemerintah Indonesia kecuali menghabisi kelompok teroris Islam. Jika bersikap ragu dan tetap menolak fakta adanya sel-sel Alqaidah di Indonesia, bukan mustahil konflik akan berkepanjangan dan meluas sampai terjadi instabilitas di seluruh Asia Tenggara. Membiarkan semangat jihad global tetap berkobar di kalangan Islam fundamentalis, menurut dia, itu hanya akan membahayakan keutuhan teritorial Indonesia sendiri.
Tiga hari kemudian, Rohan Gunaratna menulis tuduhan yang sama dengan subtansi wacana serupa di The Guardian. Dan, sungguh mengherankan, apa yang didadar Yael Shahar pada jam-jam pertama pascaledakan 12 Oktober 2002 ditambah bumbu provokatif dari Rohan Gunaratna pada 15 Oktober 2002 itulah yang agaknya menjadi rujukan Presiden AS George W Bush, PM Australia John Howard dan PM Inggris Tony Blair untuk menunjuk Abubakar Ba’asyir dan Jemaah Islamiah sebagai pihak tertuduh yang melakukan dan mendalangi Malapetaka 12 Oktober 2002.
Yang juga memprihatinkan adalah sikap Presiden Megawati Soekarnoputeri yang terkesan diam dan mau tunduk begitu saja terhadap tekanan –bahkan bukan tidak mungkin pesanan-- dari tiga sekawan aktor utama yang berperan sebagai loyalis-propaganda anti-Islam itu. Tatkala tim investigasi gabungan baru digagas, Menhan Matori Abdul Djalil bahkan dengan enteng meyakini bahwa Alqaidah dan operator local Jemaah Islamiah ada di balik Bom Bali. ‘’Saya heran, mengapa orang-orang kok tidak percaya dengan segala informasi dari luar.’’
Pemberlakuan Perpu Antiterosime yang disusul dengan penangkapan amir Majelis Mujahidin Indonesia KH Abubakar Ba’asyir menjadi bukti betapa tekanan asing itu telah begitu hebat menekan Pemerintah Indonesia. Adanya campur tangan asing juga yang bisa menjelaskan mengapa Tim Investigasi Gabungan Polri-AFP terkesan tidak serius, setengah hati, malah mandek, menyelidiki identitas dan asal usul bom yang menyebabkan hampir 200 orang tewas, hampir 350 lainnya terluka, serta menghancurkan puluhan gedung dan kendaraan sekitar Sariclub.
Meminjam hasil analisis dan investigasi pihak-pihak independen, kita dapat merasakan Tragedi 12 Oktober 2002 --yang menurut cendikiawan Nurcholish Madjid setara dengan Tragedi 11 September 2001—sarat dengan muatan kepentingan propaganda dan disinformasi menyudutkan Islam dan umat Muslim.
Kita sudah menyaksikan ada begitu banyak kejanggalan, bahkan kepalsuan, di balik pembuatan daftar tersangka pelaku Tragedi 11 September serta penggelaran kampanye ‘Perang Antiterorisme’ yang pernah disebut George Bush dan Jaksa Agung John Schroft sebagai ‘Perang Salib Baru’ (The New Jewish and Chriatianity Crusade). Kita juga mendapat informasi ada begitu banyak mualaf dikorbankan sebagai pelaku aksi anarkis dan teror. Apa yang bisa dijelaskan kepada publik jika 10 dari 19 tersangka pelaku aksi Tragedi WTC itu ternyata masih hidup. Siapa yang bisa menghukum, ketika dalang sesungguhnya adalah orang-orang hasil binaan sebuah aliansi dan konspirasi yang diarsiteki CIA dan Mossad. Bukan tak mungkin mereka pula yang menjadi mastermind di balik Tragedi Bali.
Alangkah bijaksana jika para pengambil kebijakan –utamanya yang masih mau mengaku beragama Islam—mau sedikit belajar dari kasus Tragedi Luxor di Mesir. Tragedi tahun 1997 yang menewaskan 78 orang (69 daintaranya adalah turis asing) serta melukai 85 warga lainnya itu sesungguhnya adalah buah dari rekayasa agen-agen Mossad. Mereka menyusup dan memanfaatkan orang yang diduga kenal atau pernah berkomunikasi dengan aktivis Ikhwanul Muslimin dan Gamaat Islamiyat Mesir. Apa yang kemudian terjadi? Seakan memenuhi 'pesanan' Washington, Pemerintah Mesir langsung menangkapi ratusan aktivis IM dan JI dan menjebloskannya ke penjara tanpa proses pengadilan.
Apakah cara dan langkah represif seperti itu yang hendak terjadi di sebuah negara yang hingga kini tercatat masih berpenduduk mayoritas muslim ini? Dimanakah keadilan dan kejujuran ketika komplotan separatis pendeta Alex Manuputty dan kawan-kawan, yang jelas-jelas ingin mendirikan Republik Maluku Selatan, dibiarkan bebas dari tahanan, sementara Ustaz Abubakar Ba’asyir, yang renta, sakit-sakitan dan belum tentu bersalah, sekadar shalat Jumat saja dilarang. Lalu, apa maksudnya kebebasan menjalankan ajaran agama masing-masing itu dijamin oleh UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia? Dimanakah perasan dan empati dari para pemimpin yang masih ber-KTP Islam itu?
Wahai warga dunia yang masih punya nurani dan logika akal sehat! Kita semua sama-sama menyadari terror dalam bentuk apa pun –termasuk state terrorism yang dikerjakan tanpa malu-malu oleh Amerika dan Israel—adalah tidak dibenarkan oleh rasa kemanusian dan agama apa pun. Kami, warga Indonesia dan umat muslim pun turut berduka dan mengecam aksi terorisme di mana pun. Orang-orang seperti Amrozi, Mukhlas dkk boleh jadi –seperti pengakuan mereka-- mungkin ikut terlibat dalam aksi Bom Bali, tapi benarkah dia yang meledakkan Sariclub? Katakanlah ada orang Islam ikut terlibat sebagai dump agent, menurut analisis Wakil Ketua Tim Investigasi MUI Suripto SH, tapi apa adil jika muslim lainnya yang ikhlas memperjuangkan syariat Islam harus juga kena getahnya?
Kalau mau jujur dan terbuka sebenarnya ada cukup banyak indikasi agen-agen intelijen asing bermain di Bali. Beragam informasi seperti adanya agen BIN yang disusupkan ke Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), kesaksian tentara Australia di tempat kejadian, hasil investigasi tim independen, bukti-bukti disinformasi yang dihembuskan AS, Singaoura dan International Crisis Group, simpang siur pengakuan para saksi soal Bangkok Meeting, serta pengakuan Kepala Australian Federal Police (AFP) Mick Keelty tentang adanya deal-deal khusus dan seterunya, rupanya tidak cukup menarik untuk dibedah sebagai wacana alternatif dibanding temuan-temuan dan klaim-klaim formal dari Tim Investigasi Gabungan Polri-AFP.
Pembaca yang budiman, dalam suasana gundah dan prihatin melihat berbagai upaya propaganda dan disinformasi yang terus dihembus-hembuskan Amerika dan antek-anteknya itulah buku sederhana ini disusun. Apa pun data dan informasi yang terdapat di dalamnya, yang tersirat maupun tersurat, Insya Allah ada dasarnya. Dan seperti perintah Allah dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 6, marilah sama-sama kita bertabayun terhadap segala macam kabar dan berita yang datangnya dari manusia. Apalagi jika kita tahu mereka termasuk katagori orang yang suka atau malah terbiasan berbuat fasik (berbohong, menipu, ingkar, dzolim, dan aneka kejahatan lainnya)..
Akhirnya, terlepas dari kekurangan yang masih melekat di sana-sini, penulis berharap mudah-mudahan ada manfaatnya. Hanya kepada Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, penulis berharap semoga risalah kecil ini punya nilai dakwah amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya. Amin. Wallahu ’alam bish-showab.



Jakarta, 5 Januari 2003




Ir Dedi Junaedi




My Biodata


Dedi Junaedi bin Haji Supandi bin Chandra (Dedi J.S. Chandra) lahir di Kuningan, Jawa Barat, 13 Juni 1965, dari keluarga petani pasangan H Ahmad Supandi-Hj Saodah. Anak ke-4 dari tujuh bersaudara ini menamatkan SD-SMP di Desa/Kecamatan Ciwaru, sekolah menengah di SMAN 2 Kuningan, kemudian pada 1984 masuk Institut Pertanian Bogor lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan [PMDK]. Dia lulus sebagai sarjana teknologi pangan tahun 1988 dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian IPB Bogor.
Sebelum terjun di arena jurnalistik, dia pernah mengajar kimia di Lembaga Pendidikan Pra-Universitas TEKNOS Jakarta [1987-1988] dan Supervisor Produksi di PT Alfindo Putra Setia [AdeS] Cibinong 1988-1990. Sewaktu bekerja di AdeS, dia ikut Kursus Singkat Jurnalistik pada Lembaga Pers Dr Soetomo Jakarta selama tiga bulan. Dari sini kemudian masuk harian Pelita sebagai wartawan [1990-1993] dan redaktur iptek [1992-1993]. Selanjutnya dia bergabung dengan Harian Umum Republika per 20 Februari 1993 sampai sekarang. Mula-mula dia menjadi wartawan ekbis, kemudian menjadi wartawan dan redaktur Iptek. Selanjutnya dia menjadi redaktur opini, suplemen TrendTek, griya dan busana, kemudian kordesk pendidikan, kesehatan dan iptek, serta kordesk Republika Minggu sampai Juli 2001. Berikutnya dia ditugaskan sebagai Koordinator Redaksi di Republika Online selama setahun, kemudian kembali ditarik ke Republika cetak sebagai koordinator halaman luar dan Republika Minggu. Setelah keluar dari Republika per 21 Juni 2003, dia kemudian bergabung dengan majalah Suara Hidayatullah dan majalah dMaestro sampai kemudian menjadi Tim Media Menteri Pertanian per Oktober 2005. Per Juli 2007, alumni IPB dan Lembaga Pers Dr Soetomo Jakarta ini juga ikut membidani lahirnya majalah Inspiring yang terbit perdana Agustus 2007.
Sepanjang karir jurnalistiknya, dia pernah beberapa kali meraih penghargaan. Antara lain juara I dan II Lomba Karya Tulis Ilmiah Populer Ristek/DRN pada 1993 dan 1995, juara II Lomba Karya Tulis Teknologi Perbankan 1996, Juara II Kuis Komputeria HP-SCTV, juara III Lomba Karya Tulis Teknologi Informatika Infokomputer-RCTI 1997, Juara IV Lomba Tulis Teknologi Telekomunikasi dan Informatika Indosat 1997, serta juara I Lomba Tulis Teknologi Printer HP 1998 dan 1999.
Menulis adalah bagian dari obsesinya sejak kuliah. Tapi, kesibukan dan rutinitas sebagai wartawan harian membuat langkahnya tersendat, meskipun peluang dan tawaran sebenarnya ada. Tahun 1993, ketika artikelnya ‘Menghidupkan Kembali DNA Purba’ dinyatakan sebagai pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah Populer Ristek 1993, Prof Dr BJ Habibie [waktu itu Menristek] pernah menyuruhnya untuk terus mengembangkan diri sebagai sciences writer dengan mulai menulis buku.
Sebelum menulis buku biografi Anton Apriyantono, Pemimpin Bersahaja Sahabat Petani, Dedi Junaedi pernah menyusun tiga buku: Konspirasi di Balik Bom Bali (Rabbani Press, Januari 2003), Agenda Tersembunyi Tragedi WTC (PT Globalmedia Mahardika pada Desember 2001), serta buku Klinik Komputer yang diterbitkan bersama Tutang [Puslitbang Bioteknologi LIPI] pada 1998.